[BERANDA]

PENDIDIKAN HOLISTIK
Upaya Melahirkan Manusia Pejuang

dr. Sayoga

 

Mengatasi keterpurukan bangsa, Guruji Anand Krishna berpandangan, “Pertama-tama sistem pendidikan harus diperbaiki. Berikan pelajaran budi pekerti kepada anak-anak. Pelajaran agama harus menjadi tugas orang tua dan para pemuka agama. Berikan pula pelajaran civics – kewarganegaraan. Jelaskan kepada anak-anak, bagaimana menjadi warganegara yang baik, apa yang menjadi hak dan kewajibannya. Pendidikan bagaikan susu murni, segar, bersih – tetapi apabila wadag yang kalian gunakan tidak bersih – susu akan pecah. Susu itu tidak berguna lagi. Perhatikanlah kebersihan wadag.”

Mengahadapi desakan budaya asing yang semakin menghancurkan perikehidupan nasional, Ki Hadjar Dewantara (1889–1959) dengan keras menegaskan, “Kita hidup seperti orang yang menumpang dalam hotel kepunyaan orang lain, tak mempunyai nafsu akan memperbaiki atau menghiasi rumah yang kita tempati, karena tak ada perasaan bahwa rumah itu rumah kita. Alatnya untuk mengurangi bahaya itu ialah: pendidikan… pendidikan pada anak-anak kita, pada orang-orang banyak dalam masyarakat kita. Dan yang tak boleh kita lupakan yaitu: ……. pendidikan nasional, yaitu mendidik rakyat kita untuk keperluan kita dengan mengindahkan kultur (dasar-dasar kehidupan) kita.”  

Rabindranath Tagore (1861-1941) menekankan pentingnya suatu negara untuk mengembangkan sistem pendidikan yang sesuai berdasarkan budaya setempat, seperti misalnya pendidikan di India yang mendasarkan pada tiga elemen dasar dari budaya India yakni: non dualitas dalam bidang ilmu pengetahuan, persahabatan bagi semua, melaksanakan swadharma tanpa memikirkan hasil. Masih menurut Tagore, sekolah yang ideal seharusnya jauh dari pemukiman, berada dalam ruang terbuka dan dikelilingi oleh areal pertanian dan perkebunan dengan beraneka pepohonan. Alam adalah guru yang terbaik. Tentang posisi agama dalam pendidikan Tagore menekankan bahwa, kesatuan Alam dan jiwa manusia adalah kuil dan ibadah itu sendiri.

Dalam suatu kesempatan Hyich Ulyanov Lenin secara blak-blakan mengatakan bahwa tidak ada negara Eropa satupun yang begitu terbelakang seperti Rusia. Kemudian Ia menganjurkan kepada rakyatnya agar berhematlah dalam segala hal kecuali untuk satu kepentingan: pendidikan. Telah terbukti banyak bangsa-bangsa didunia berhasil memecahkan berbagai masalah nasionalnya yang dimulai dari pembenahan sungguh-sungguh pada lapangan pendidikan seperti misalnya: Jepang, India, Malaysia, Korea, negara Eropa dan lain-lain. Bahkan dibanyak negara secara institusional pemerintahannya mengambil tanggung jawab total dalam hal kemajuan pendidikan bangsanya.

STRATEGI PENDIDIKAN

Guruji Anand Krishna mengatakan, kita sibuk membangun badan melulu, entah itu badan manusia atau badan jalan raya. Banyak sekali gedung dan bangunan tinggi, tapi kesadaran kita masih sangat rendah. Dalam pendidikan, beliau menambahkan, guru merupakan profesi yang paling mulia. Jika bangsa Indonesia ingin terhindar dari malapetaka maka para guru harus diselamatkan terlebih dahulu. Pendidikan adalah mercu suar pencerahan kehidupan bangsa. Perubahan cara pandang tentang pendidikan di Indonesia harus dilakukan terus menerus, bahwa pendidikan bukan selembar ijasah, dan ijasah bukan pendidikan bangsa. 

Jika negara Indonesia ingin berubah dalam mencapai hal-hal yang hakiki - tujuan ke depan yang lebih mulia, maka yang pertama-tama harus diubah adalah manusianya (revolution of man), dan hal itu harus dimulai sejak pendidikan dasar, baik itu formal maupun non formal. Proses perubahan ini harus berjalan secara integral baik ke dalam maupun ke luar sehingga tercapai suatu transformasi sosial yang lebih besar.

Tidak pernah ada di dunia ini suatu bangsa menjadi besar apabila didalam proses penggemblengan rakyatnya mengabaikan faktor pendidikan. Negara-negara yang sudah maju saja pada tahun 1968-1969 masih mengalokasikan belanja APBN untuk pendidikan diatas 20% seperti Jepang (20,4%), Belanda (25,1%), Swedia (28,0%). Mari kita tengok kembali pada tahun yang sama komitmen negara yang dalam beberapa hal tidak maju dan juga tidak kaya, namun sangat bersemangat memajukan pendidikan bangsanya seperti Ghana mengalokasikan APBN sebesar 20,3%, Zaire (24,%), Ruanda (27,3%), Burundi (29,1%), Mesir (21,0%), Bolivia (29,3%), Costa Rica (35,0%). Menyimak data ini kita dibuat mengelus dada jika melihat kondisi negara kita. Sebaliknya ada rasa haru didada membayangkan kepedulian pemimpin-pemimpin negara tersebut terhadap pembangunan pendidikan bangsanya.

Episode reformasi yang telah berjalan lebih dari sewindu tidak membawa perubahan signifikan dalam dunia pendidikan. Wajah pendidikan semakin merana dan tak terurus. Para guru rajin berdemo menuntut hak peningkatan kesejahteraan. Sekolah-sekolah pada rusak, bocor, dan bangku-bangku pada hilang. Biaya pendidikan di Indonesia semakin mahal dari tahun ke tahun, dan boleh dikatakan hanya kaum punya yang berhak memperolehnya. Ironisnya pemerintah pun semakin bebal dan pasang muka tebal terhadap keterpurukan pendidikan bangsa. Suatu bukti pemerintah Republik Indonesia tidak menaruh perhatian terhadap pendidikan nasional adalah rendahnya alokasi dana APBN di sektor pendidikan. Amanat konstitusi negara untuk merealisasikan anggaran pendidikan sebesar 20% dari APBN tidak digubris oleh eksekutif. Menurut data terbaru dari harian Jawa Post tertanggal 20 Agustus 2007, pemerintah Indonesia mengalokasikan budget untuk pendidikan pada tahun 2001 sebesar 4,55%, 2002 (3,76%), 2003 (4,15%), 2004 (5,5%), 2005 (7%), 2006 (9,11%), 2007 (11,8%) 2008 (10,8%). Sistem pendidikan yang benar pada hakekatnya mendorong pemerintah mengalokasikan APBN untuk pendidikan secara proporsional dan bertanggung jawab.

Tragis dan sulit diterima akal, anggaran pendidikan pada tahun 2008 malah mengalami penurunan. Pemerintah tidak mempunyai strategi matang untuk membangun pendidikan, bahkan kini berkembang sikap saling tidak percaya antara satu instansi dengan instansi lain. Orang-orang yang tidak memiliki kompetensi, kecuali uang, dengan sangat mudah mendirikan pusat pendidikan berupa sekolah, institut, akademi, universitas dan sebagainya. Pendidikan berubah menjadi industri dan dagang - karena itu tujuan pokoknya juga bergeser menjadi arena untuk mengais keuntungan. Merupakan tindakan tidak tepat jikalau kita hanya berpangkutangan dan bertopangdagu dengan menyesali sikap pemerintah, dan terus mengharapkan perubahan dari atas.

Kita harus mulai dari diri sendiri menggerakkan segenap daya, kekuatan, pengorbanan dan kesiapsediaan menyalakan pelita pencerdasan kehidupan bangsa. Tunas-tunas bangsa harus diselamatkan dalam pembinaan yang benar, agar jangan sampai seperti burung yang tidak bisa terbang karena sayapnya patah duluan oleh terkaman hama lingkungan yang begitu ganas. Perubahan besar lahir dari ideal yang besar. Untuk mencapai tujuan itu dibutuhkan kebersamaan, energi yang besar dan pribadi-pribadi agung nan teguh, tahan banting, berani mengambil resiko serta senantiasa seia-sekata dalam visi dan perjuangan.  

Indonesia Jaya.

[BERANDA]